GEGAS.CO || HUMBANG HASUNDUTAN — Dewan Pengurus Cabang (DPC) Persatuan Alumni GMNI Humbang Hasundutan (PA GMNI Humbahas) menyerukan agar seluruh perguruan tinggi di Sumut segera menurunkan mahasiswa sebagai relawan kemanusiaan bencana, termasuk untuk pendampingan trauma healing di sejumlah wilayah di Sumatera Utara (Sumut)
Seruan itu disampaikan Ganda M. Sihite, Sekretaris DPC PA GMNI Humbahas dalam siaran pers nya. Dikatakan, PA GMNI Humbahas menilai kampus tidak boleh hanya menjadi penonton. Sebagai pusat ilmu pengetahuan, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam situasi darurat kemanusiaan. Mahasiswa —dengan idealisme, kapasitas akademis dan energi sosialnya— dipandang sebagai kekuatan yang mampu mempercepat pemulihan di lapangan.
“Pengiriman mahasiswa relawan bukan hanya bentuk pengabdian, tetapi juga implementasi Tridharma Perguruan Tinggi. Bencana adalah ruang belajar nyata bagi mahasiswa untuk melihat bagaimana ilmu dan kemanusiaan berjalan bersama,” tuturnya.
Ganda menegaskan bahwa penanganan bencana tidak boleh terhambat ritme birokrasi pusat. Menurut dia, respons pemerintah pusat kerap seremonial dan lambat sehingga daerah tidak boleh menunggu.
“Kolaborasi lokal antara kampus, alumni, masyarakat, organisasi kemanusiaan, dan pemerintah daerah bisa bergerak jauh lebih cepat tanpa harus menunggu intervensi pusat yang sering hanya berupa kunjungan singkat atau wacana tanpa tindak lanjut,” katanya lagi.
Fokus utama PA GMNI Humbahas adalah keselamatan dan kesehatan psikologis anak-anak korban bencana. Mereka kehilangan rutinitas, menghadapi kecemasan, hingga ada yang kehilangan orang tua. Jika tidak ditangani segera, trauma tersebut berpotensi membekas bertahun-tahun. Mahasiswa dari fakultas psikologi, pendidikan, kesehatan, keperawatan, dan kedokteran dianggap memiliki kompetensi untuk memberikan pendampingan psikososial yang terstruktur.
“Kami mendesak perguruan tinggi di Sumut untuk mengorganisir mahasiswa dalam misi trauma healing yang terukur dan berbasis keilmuan. Ini langkah mendesak untuk mencegah kerusakan mental jangka panjang pada generasi muda di daerah terdampak,” lanjut Ganda.
PA GMNI Humbahas juga menekankan bahwa pemulihan bencana membutuhkan sinergi banyak pihak: perguruan tinggi dengan sumber daya intelektualnya, alumni dengan jaringan lapangan, masyarakat dengan pengetahuan lokal, hingga pemerintah daerah dengan kemampuan koordinatif. Sinergi ini dinilai bisa bergerak tanpa menunggu komando pusat.
“Kami siap menjadi jembatan antara kampus dan masyarakat di Humbang Hasundutan maupun wilayah bencana lainnya. Yang penting adalah memastikan bantuan cepat, tepat dan menyentuh kelompok rentan seperti anak-anak,” ujarnya.
Di akhir pernyataan, PA GMNI Humbahas mengajak seluruh kampus dan elemen masyarakat untuk tidak menunda gerakan ini.
“Jangan menunggu, jangan berharap pada gimmick. Turunkan mahasiswa, bangun relawan, dan hadir untuk rakyat. Kehadiran mahasiswa bukan hanya menyelamatkan hari ini, tetapi juga masa depan psikologis anak-anak korban bencana,” pungkas Ganda. * (rls/Marden)
