Oleh : Ricky Fernando, S.Pd., M.Pd.
PRESTASI olahraga tidak pernah lahir dalam semalam. Di balik seorang atlet yang berdiri di podium juara, terdapat proses panjang yang dibangun melalui pembinaan yang terencana, konsisten dan dimulai sejak usia dini. Karena itu, keberadaan sekolah olahraga bukan sekadar pelengkap sistem pendidikan, melainkan bagian penting dalam strategi pembangunan sumber daya manusia.
Ironisnya, hingga kini Kota Pekanbaru sebagai ibu kota Provinsi Riau belum memiliki Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Olahraga. Padahal, kota ini merupakan pusat pemerintahan, pendidikan, sekaligus episentrum pembinaan berbagai cabang olahraga di Riau. Kekosongan tersebut sudah saatnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Usia 12 hingga 15 tahun merupakan fase emas dalam pembentukan atlet. Pada rentang usia inilah kemampuan teknik, kondisi fisik, karakter, disiplin hingga mental bertanding berkembang secara optimal. Sayangnya, banyak atlet muda di Pekanbaru masih dihadapkan pada pilihan yang sulit: mengejar prestasi olahraga atau mempertahankan prestasi akademik.
Tidak sedikit orang tua yang akhirnya meminta anak berhenti berlatih karena khawatir pendidikan formal mereka terganggu. Di sisi lain, ada pula atlet yang tetap berlatih, tetapi harus mengorbankan waktu belajar sehingga prestasi akademiknya menurun. Akibatnya, kedua aspek tersebut berjalan tidak maksimal.
Kehadiran SMP Negeri Olahraga dapat menjadi solusi atas persoalan tersebut. Melalui sistem pendidikan yang terintegrasi, bahkan dapat dikembangkan dengan konsep boarding school, peserta didik memperoleh kesempatan untuk mengikuti pendidikan formal sekaligus menjalani latihan olahraga secara terprogram tanpa harus mengorbankan salah satunya. Pendidikan dan prestasi olahraga tidak lagi diposisikan sebagai dua pilihan yang saling bertentangan, melainkan berjalan beriringan.
Lebih jauh, keberadaan SMP Negeri Olahraga akan memberikan manfaat strategis bagi Kota Pekanbaru. Sekolah ini dapat menjadi pusat lahirnya atlet-atlet berprestasi yang dipersiapkan sejak usia dini untuk menghadapi berbagai ajang, mulai dari Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), Pekan Olahraga Nasional (PON), Peparnas, hingga kompetisi internasional seperti SEA Games. Pembinaan yang berkelanjutan tentu jauh lebih efektif dibandingkan pola pembinaan instan menjelang sebuah kejuaraan.
Di sisi lain, sekolah olahraga juga membuka akses yang lebih adil bagi anak-anak berbakat dari keluarga kurang mampu. Mereka memiliki kesempatan memperoleh pendidikan, tempat tinggal, pembinaan, hingga perlengkapan olahraga yang memadai tanpa terbebani persoalan ekonomi. Dengan demikian, bakat tidak lagi ditentukan oleh kemampuan finansial keluarga, melainkan oleh potensi dan kerja keras.
Manfaat lainnya tidak kalah penting. Kehadiran sekolah olahraga berpotensi menggerakkan ekosistem ekonomi olahraga di Pekanbaru. Aktivitas kompetisi, pelatihan, kejuaraan hingga kerja sama dengan berbagai pihak akan mendorong tumbuhnya sektor pendukung seperti hotel, usaha mikro, transportasi dan industri olahraga. Kota yang memiliki pusat pembinaan olahraga umumnya juga memperoleh nilai tambah sebagai destinasi penyelenggaraan berbagai event.
Selain berdampak pada aspek ekonomi, keberadaan SMP Negeri Olahraga akan memperkuat citra Pekanbaru sebagai kota yang serius membangun kualitas generasi muda. Sejumlah kota besar di Indonesia telah lebih dahulu memiliki sekolah olahraga sebagai bagian dari investasi jangka panjang pembangunan sumber daya manusia. Pekanbaru seharusnya tidak tertinggal dalam langkah strategis tersebut.
Mewujudkan sekolah olahraga sesungguhnya tidak harus dimulai dengan proyek yang besar dan mahal. Pemerintah Kota Pekanbaru dapat memanfaatkan aset daerah yang telah tersedia, baik di kawasan Gelanggang Olahraga Rumbai maupun sekolah negeri yang memiliki lahan memadai. Tahap awal dapat difokuskan pada beberapa cabang olahraga yang selama ini menjadi kekuatan Riau, seperti atletik, renang, sepatu roda, woodball dan pencak silat.
Kurikulum pun dapat dirancang secara proporsional melalui kolaborasi antara Dinas Pendidikan, Dinas Kepemudaan dan Olahraga, KONI Kota Pekanbaru, serta pengurus cabang olahraga. Pendidikan umum tetap menjadi fondasi utama, sementara pembinaan olahraga diberikan secara sistematis sesuai kebutuhan perkembangan atlet. Guru pendidikan jasmani yang memiliki sertifikasi kepelatihan dapat diperkuat dengan pelatih dari klub maupun pengurus cabang olahraga.
Kini, yang dibutuhkan bukan lagi sekadar wacana, melainkan keberanian mengambil keputusan. Pemerintah Kota Pekanbaru bersama DPRD perlu memasukkan pembangunan SMP Negeri Olahraga ke dalam perencanaan pembangunan daerah serta dukungan anggaran yang memadai. Dinas terkait perlu segera menyusun kajian akademik dan melakukan studi banding ke daerah yang telah berhasil mengembangkan model serupa. Sementara itu, KONI, akademisi, praktisi olahraga dan masyarakat perlu memberikan dukungan melalui data, gagasan serta sinergi pembinaan.
Pembangunan sekolah olahraga bukanlah beban anggaran, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan daerah. Hasilnya mungkin tidak terlihat dalam satu atau dua tahun, tetapi satu dekade ke depan, Pekanbaru dapat memiliki generasi atlet yang tidak hanya mampu mengharumkan nama daerah di podium nasional maupun internasional, tetapi juga memiliki bekal pendidikan yang kuat untuk menatap masa depan.
Sudah saatnya Pekanbaru mengambil langkah berani. Sebab, prestasi besar selalu berawal dari keputusan besar untuk mempersiapkannya sejak dini. **
- Penulis adalah Dosen Pendidikan Jasmani FKIP Universitas Islam Riau dan Praktisi Olahraga di Provinsi Riau.
