GEGAS || PEKANBARU -β Polda Riau resmi menuntaskan Operasi Antik Lancang Kuning (LK) 2026 yang berlangsung selama 22 hari, dari 16 April hingga 7 Mei 2026. Hasilnya mencengangkan: 557 pelaku narkoba berhasil diringkus dari berbagai wilayah hukum Riau.
Demikian diungkapkan Brigjen Pol Hengki Haryadi, Wakapolda Riau dalam konferensi pers, sore tadi (12/5/2026). Disebutkannya, angka pelaku penyalahgunaan narkoba ini menjadi rekor tertinggi dalam tiga tahun terakhir untuk operasi serupa di Provinsi Riau.
βTotal laporan polisi yang dihasilkan mencapai 435 perkara. Kami tidak memberi ruang sedikit pun bagi peredaran gelap narkotika. 557 tersangka ini bukti keseriusan kami," tukasnya.
Barang bukti yang disita sangat mengkhawatirkan. Dominasi sabu masih luar biasa besar, dengan total 31,85 kilogram dari keseluruhan 34,38 kilogram narkotika yang diamankan.
Di samping itu, polisi juga menyita ribuan butir ekstasi, ganja, serta temuan baru berupa 761 *cartridge yang diduga mengandung *etomidate, zat yang mulai marak disalahgunakan sebagai pengganti narkoba konvensional.
Dari segi profil tersangka, mayoritas adalah laki-laki (530 orang), sementara 27 lainnya perempuan. Latar belakang profesi mereka beragam namun ironis: 182 orang menganggur, 168 wiraswasta, serta puluhan petani dan buruh. "Ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi menjadi salah satu celah yang dimanfaatkan bandar," kata Hengki lagi.

Salah satu penggerebekan paling dramatis terjadi di perairan Selat Akar, Kepulauan Meranti. Petugas mencegat speedboat yang mengangkut 27 kilogram sabu. Dua tersangka asal Bengkalis, berinisial K dan S, tak bisa berkutik. "Jalur tikus yang mereka andalkan sudah terendus radar Satresnarkoba Polres Kepulauan Meranti," lanjutnya.
Polda Riau menegaskan pendekatan hukum dalam operasi ini bersifat tegas namun manusiawi. Sebanyak 487 tersangka kini ditahan untuk proses hukum lanjutan, sementara 70 orang lainnya yang tergolong penyalahguna diarahkan menjalani rehabilitasi medis dan sosial.
Direktur Reserse Narkoba Polda Riau, Kombes Pol Putu Yudha Prawira, menekankan bahwa pengawasan di jalur perairan akan semakin diperketat mengingat posisi Riau yang strategis sebagai pintu masuk. "Kami akan kejar semua jaringan hingga ke akar-akarnya. Tidak ada ampun bagi bandar narkoba," pungkasnya.
Berdasarkan estimasi BNN, keberhasilan operasi ini telah menyelamatkan sekitar 162.754 jiwa dari potensi penyalahgunaan narkoba dan setara dengan menyelamatkan nilai ekonomi hingga Rp34,85 miliar yang seharusnya mengalir ke kantong sindikat.
Operasi Antik LK 2026 menjadi bukti bahwa Riau sedang tidak main-main dalam perang melawan narkotika. * (Denny W)
