GEGAS || PEKANBARU – Peringatan Hari Bumi 2026 di Pekanbaru berubah menjadi panggung desakan serius terhadap krisis iklim. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Riau menggelar aksi publik bertajuk “Our Power, Our Riau: Mewujudkan Transisi Energi Berkeadilan, Pulihkan Hak Rakyat dan Planet Kita!” di Stadion Utama Riau, kemarin siang.
Aksi ini tak sekadar seremonial. Sejak pukul 14.00 WIB, peserta dari berbagai elemen—mulai mahasiswa, organisasi masyarakat sipil, hingga komunitas muda—memadati lokasi dengan membawa pesan kuat: Riau tidak bisa lagi bergantung pada energi kotor.
Berbagai kegiatan digelar untuk menarik perhatian publik, dari mural kolaboratif di atas kanvas besar, ruang menggambar untuk anak-anak, hingga panggung terbuka yang memberi kesempatan masyarakat menyuarakan keresahan soal energi dan lingkungan.
Koordinator kegiatan, Imam Yoemi menegaskan aksi ini lahir dari kegelisahan atas kondisi bumi yang kian memburuk. “Kerusakan ada di mana-mana. Krisis iklim itu nyata dan sudah terjadi,” tukasnya di sela kegiatan.
Menurutnya, peringatan Hari Bumi harus menjadi momentum refleksi sekaligus tekanan kepada pemerintah agar lebih serius menjalankan transisi energi bersih yang berkeadilan. Dia menekankan, transisi tidak boleh mengabaikan hak masyarakat, terutama kelompok rentan di sekitar wilayah industri energi.
Sorotan utama dalam aksi ini adalah ketergantungan Riau terhadap batu bara, khususnya dari operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Aktivitas dari hulu hingga hilir disebut berdampak langsung terhadap lingkungan dan masyarakat, terutama di wilayah pesisir.
Data terbaru juga menunjukkan ironi: penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Riau justru mengalami penurunan pada 2023 dibanding tahun sebelumnya. Kondisi ini dinilai sebagai sinyal lemahnya komitmen daerah dalam beralih ke energi bersih.
Di tengah ancaman fenomena iklim ekstrem seperti “Godzilla El Nino” yang diprediksi terjadi tahun ini, WALHI Riau menilai sikap diam bukan lagi pilihan. Mereka menuntut langkah konkret untuk menekan laju krisis iklim yang dampaknya sudah dirasakan melalui berbagai bencana.
Imam juga menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda. Ia mendorong anak muda memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan kesadaran lingkungan. “Kalau bisa ini jadi FOMO yang baik. Orang ikut peduli karena melihat isu ini penting,” katanya.
Pendekatan kreatif dalam aksi ini dinilai efektif menjangkau masyarakat luas, termasuk mereka yang sebelumnya awam terhadap isu lingkungan.
Sabila Dewi Purnama, salah satu peserta, menyebut kegiatan ini sebagai cara “halus tapi mengena” dalam mengedukasi publik. “Pendekatannya menyenangkan, tapi isunya sangat dalam dan mendesak,” katanya.
Dia menilai kegiatan seperti ini perlu diperbanyak agar kesadaran publik tumbuh secara alami, bukan karena tekanan. “Kondisi bumi sekarang sudah sangat urgent,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Monang, peserta lainnya. Ia menekankan tanggung jawab generasi muda dalam menjaga bumi. “Kalau bukan kita, siapa lagi? Kita harus mulai dari hal kecil seperti reforestasi dan menanam,” katanya.
Aksi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa krisis iklim bukan lagi isu masa depan. Di Riau, dampaknya sudah terasa hari ini—dan tanpa perubahan arah kebijakan energi, beban itu dipastikan akan semakin berat.
WALHI Riau berharap suara dari ruang publik ini tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi tekanan nyata yang mendorong perubahan kebijakan menuju energi bersih, adil, dan berkelanjutan. * (rls/Marden)
