Scroll to top

UIN Suska Riau Gelar Nobar Film Pesta Babi

Author
By administrator
13 Mei 2026, 13:19:56 WIB Gaya Hidup
UIN Suska Riau Gelar Nobar Film Pesta Babi

GEGAS ||  PEKANBARU — Kampus UIN Suska Riau menjadi ruang diskusi kritis terkait isu lingkungan, kolonialisme modern dan hak asasi manusia melalui kegiatan nonton bareng serta diskusi film dokumenter Pesta Babi, Rabu (13/5/2026).

Kegiatan yang digelar di Aula Teater Fakultas Pertanian dan Peternakan itu dihadiri sekitar 50 peserta yang mayoritas berasal dari kalangan mahasiswa.

Mengusung tema “Kolonialisme di Zaman Kita”, kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya aktivis lingkungan Kharik Anhar, sutradara film dokumenter Dandhy Dwi Laksono, serta mantan Ketua KPU Riau, Ilham Yasir.

Diskusi berlangsung dinamis setelah pemutaran film Pesta Babi, sebuah dokumenter yang mengangkat persoalan konflik tanah adat dan kerusakan lingkungan di wilayah Papua Selatan akibat ekspansi industri berskala besar.

Film tersebut menyoroti kondisi masyarakat adat di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi yang disebut menghadapi tekanan sosial, ekonomi, hingga persoalan keamanan di tengah masuknya proyek industri raksasa.

Dalam pemaparannya, Kharik Anhar menilai kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini semakin mengkhawatirkan akibat masifnya ekspansi industri dan proyek-proyek besar yang dinilai mengancam keberlanjutan ekosistem serta ruang hidup masyarakat lokal. 

Dia menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat sipil dalam mengawal kebijakan publik dan memperjuangkan keadilan lingkungan.

Menurut dia, kolaborasi lintas sektor menjadi langkah penting untuk memastikan perlindungan lingkungan hidup berjalan beriringan dengan kepentingan masyarakat yang terdampak langsung oleh pembangunan.

Sementara itu, Dandhy Dwi Laksono menjelaskan bahwa film Pesta Babi merupakan karya dokumenter yang ia garap bersama Cypri Paju Dale pada 2026. 

Film tersebut mencoba memotret realitas sosial masyarakat adat Papua yang hidup di tengah tekanan ekspansi industri dan konflik agraria.

Dia menyebut dokumenter itu tidak hanya berbicara tentang lingkungan, tetapi juga tentang identitas, ruang hidup, serta masa depan masyarakat adat di Papua yang kini menghadapi perubahan besar akibat investasi dan industrialisasi.

Di sisi lain, Ilham Yasir mengangkat isu sosial dan kemanusiaan yang dialami masyarakat Papua, termasuk dugaan diskriminasi terhadap mahasiswa Papua di sejumlah daerah. 

Dia menilai persoalan tersebut menjadi refleksi bahwa tantangan dalam mewujudkan keadilan sosial dan kesetaraan masih menjadi pekerjaan besar bangsa Indonesia.

Diskusi juga berkembang pada isu hak asasi manusia, identitas sosial, serta pentingnya ruang akademik sebagai tempat membangun kesadaran kritis mahasiswa terhadap dinamika kebangsaan dan kemanusiaan.

Rangkaian kegiatan nobar dan diskusi film Pesta Babi berakhir sekitar pukul 12.35 WIB dalam suasana aman dan tertib. 

Acara ini sekaligus menunjukkan meningkatnya perhatian kalangan mahasiswa terhadap isu lingkungan, konflik agraria, dan persoalan sosial yang berkembang di berbagai wilayah Indonesia, khususnya Papua. * (Denny W)


Bagikan Artikel Ini:

Tinggalkan Komentar dengan Akun Facebook:
Tulis Komentar