GEGAS || DUMAI — Langit Dumai siang itu tampak teduh. Awan tipis menggantung di atas Perairan Selat Rupat, sementara angin dari tenggara bergerak perlahan menuju barat daya.
Laut terlihat tenang, nyaris tanpa amarah. Namun di atas permukaan air yang tampak biasa itu, sebuah kecemasan diam-diam mengapung sejak pagi.
Seorang anak buah kapal hilang.
Tak ada yang benar-benar tahu kapan tubuh itu jatuh ke laut. Tak ada teriakan minta tolong. Tak ada dentuman yang memecah sunyi subuh di atas kapal pompong yang berlayar dari Pelabuhan Wilmar Pelintung menuju Pelabuhan Pelindo Dumai. Yang tersisa hanya hitungan waktu, dugaan dan ruang laut yang terlalu luas untuk ditebak.
Nama lelaki itu Agustinus Laia, 30 tahun, warga Tuhemberua, Kecamatan Lolomatua, Kabupaten Nias Selatan. Dia tercatat sebagai penumpang * on board di kapal yang berangkat sekitar pukul satu dini hari. Enam jam kemudian, saat kapal tiba di Pelabuhan Pelindo Dumai, keberadaannya tak lagi ditemukan di atas kapal.
Mula-mula mungkin hanya kebingungan kecil di antara awak kapal. Seseorang mulai memanggil namanya. Menyisir sudut kapal. Memastikan ruang mesin, buritan hingga tempat beristirahat. Tapi laut sering kali menyimpan jawaban lebih cepat daripada manusia menyadari kehilangan.
Pada pukul 11.10 WIB, kabar itu akhirnya sampai ke Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Pekanbaru. Informasi diterima dari Serma Khadirin, anggota Pangkalan TNI AL Dumai. Tak lama berselang, mesin-mesin penyelamat mulai dinyalakan.
Tiga personel Rescue Unit Siaga SAR Dumai bersama tiga awak RB 218 bergerak menuju titik perkiraan korban jatuh. Skoci meluncur membelah air Selat Rupat yang siang itu tampak jinak. Namun bagi tim pencari, laut yang tenang justru bisa menyembunyikan kemungkinan paling sulit ditebak: arus yang membawa tubuh tanpa arah.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Pekanbaru, Budi Cahyadi, mengatakan operasi hari pertama difokuskan pada penyisiran area seluas 6,88 nautical mile persegi. Titik pencarian berada sekitar enam mil laut dari Pelabuhan Pelindo Dumai, pada koordinat yang telah dipetakan berdasarkan perkiraan jatuhnya korban.
Di atas laut, waktu terasa bergerak berbeda. Setiap menit berarti kemungkinan yang terus menipis. Tim SAR memindai permukaan air, memperhatikan benda sekecil apa pun yang terapung. Mata mereka bergantian menatap cakrawala, berharap menemukan tanda — pelampung, pakaian, atau mungkin lambaian yang nyaris hilang ditelan ombak.
Namun laut punya caranya sendiri menyimpan rahasia.
Menjelang petang, cahaya mulai turun perlahan di perairan Dumai. Mesin kapal penyelamat masih meraung, tapi harapan mulai berkejaran dengan batas jarak pandang. Hingga pukul 18.00 WIB, Agustinus Laia belum ditemukan.

Pencarian hari pertama dihentikan sementara.
Di daratan, keluarga menunggu dengan kecemasan yang tak bisa diukur oleh peta koordinat atau hitungan nautical mile. Di laut, para personel SAR bersiap kembali esok pagi, membawa harapan yang sama: menemukan satu manusia yang hilang sebelum laut benar-benar mengambilnya.
Operasi SAR dijadwalkan dilanjutkan Rabu pagi. Cuaca diperkirakan masih bersahabat. Gelombang berkisar antara 0,5 hingga 1,25 meter. Tapi mereka yang terbiasa bekerja di laut tahu, ketenangan perairan tak selalu berarti mudahnya pencarian.
Karena di tengah bentangan Selat Rupat yang luas, yang sedang dicari bukan sekadar tubuh manusia. Melainkan kesempatan terakhir agar seseorang bisa pulang.* (rls/Marden)
