Scroll to top

Api di Gang Solansa Pekanbaru Hanguskan 3 Rumah

Author
By administrator
29 Mei 2026, 16:14:35 WIB Riau
Api di Gang Solansa Pekanbaru Hanguskan 3 Rumah

GEGAS || PEKANBARU -Asap hitam itu mula-mula hanya tampak seperti kabut tipis yang naik dari sela atap rumah bulatan di Gang Solansa, Jalan Adi Sucipto, Pekanbaru, Jumat siang, 29 Mei 2026. 


Udara di kawasan padat penduduk itu sebenarnya sedang biasa saja. Matahari menggantung malas di langit Marpoyan Damai, sementara sebagian warga masih beristirahat selepas Salat Jumat. Tidak ada yang menyangka, beberapa menit kemudian, lorong sempit itu berubah menjadi kepanikan panjang yang menjilat dinding-dinding rumah.


Zulkarnain, 65 tahun, sedang berada tidak jauh dari lokasi ketika ia melihat sesuatu yang ganjil dari rumah milik Yulidar, perempuan renta berusia 85 tahun yang telah lama tinggal di gang tersebut. Dari ruang tengah rumah semi permanen itu, api muncul seperti kilatan kecil yang nyaris tak terdengar. Mula-mula hanya percikan di bagian plafon. Lalu suara kayu retak mulai bersahutan.


“Api! Api!” teriak warga berhamburan.


Gang Solansa bukan kawasan yang mudah dijangkau kendaraan besar. Lorongnya rapat, rumah-rumah berdiri berdempetan dengan material kayu dan seng yang menua dimakan cuaca. 


Di tempat seperti itu, api tak perlu waktu lama untuk menemukan jalannya sendiri. Dalam hitungan menit, kobaran menjalar ke dua rumah petak di samping rumah bulatan milik Yulidar.


Warga berusaha memadamkan api dengan alat seadanya. Ember-ember berisi air dipindahkan dari tangan ke tangan. Sebagian mencoba menarik barang keluar rumah. Sebagian lain sibuk berteriak meminta anak-anak menjauh dari lokasi. Tetapi bergerak lebih cepat daripada kepanikan manusia.


Maruli, seorang warga lain, segera menghubungi PLN agar aliran listrik di sekitar lokasi diputus. Keputusan itu diambil di tengah kekhawatiran bahwa kabel-kabel listrik yang melintang rendah di atas gang bisa memperparah situasi. Di saat bersamaan, laporan juga masuk ke petugas pemadam kebakaran Kota Pekanbaru.


Sekitar pukul 15.05 WIB, aparat dari Polsek Bukit Raya tiba di lokasi dipimpin Kapolsek Kompol Hendrik. Polisi langsung memasang pengamanan di sekitar titik kebakaran, sementara tujuh unit mobil pemadam berdatangan bergantian memasuki kawasan permukiman yang sesak.


Suara sirene bersahut-sahutan dengan gemuruh air dari selang pemadam. Asap membubung tinggi di atas atap-atap rumah warga. Bau kayu terbakar bercampur plastik meleleh memenuhi udara. Warga hanya bisa berdiri di tepi gang, menatap rumah-rumah yang perlahan berubah menjadi arang.


Di tengah kekacauan itu, sebuah sepeda motor Yamaha Vega berwarna oranye ikut hangus dilalap api. Kendaraan itu tak sempat diselamatkan ketika kobaran membesar terlalu cepat. Beberapa warga masih mencoba menerobos mendekati rumah untuk mengambil barang, namun petugas meminta mereka mundur demi keselamatan.


Api baru benar-benar dapat dipadamkan sekitar pukul 16.00 WIB. Saat itu, yang tersisa hanyalah puing hitam, seng melengkung, dan kayu yang masih mengepulkan asap tipis. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun seperti kebakaran-kebakaran lain di kawasan padat perkotaan, kehilangan sering kali tak hanya diukur dari angka kerugian material.


Bagi Yulidar, rumah itu bukan sekadar bangunan. Di sanalah sebagian besar hidupnya dihabiskan—tempat ia menua, menyimpan kenangan keluarga, dan menjalani hari-hari sunyi sebagai perempuan lanjut usia. Kini, rumah bulatan itu tinggal rangka yang menghitam.


Penyebab pasti kebakaran masih belum diketahui. Polisi menyebut api diduga pertama kali muncul dari ruang tengah rumah dan cepat membesar karena material bangunan yang mudah terbakar. Hingga Jumat malam, garis polisi masih terpasang di lokasi, sementara warga sekitar perlahan kembali ke rumah masing-masing dengan wajah lelah dan mata yang masih menyimpan sisa kepanikan.


Di gang sempit itu, bau asap kemungkinan akan bertahan beberapa hari ke depan. Tetapi bagi mereka yang menyaksikan sendiri bagaimana api melahap rumah-rumah sore itu, ingatan tentang kobaran di Gang Solansa mungkin akan tinggal jauh lebih lama. * (Marden)


Bagikan Artikel Ini:

Tinggalkan Komentar dengan Akun Facebook:
Tulis Komentar