GEGAS.CO || PEKANBARU - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau menyebutkan di lihat dari visi-misi program hingga rekam jejak 3 (tiga) pasangan calon Capres/Wapres masih berpihak pada kekuasaan atau oligarki.
Penilaian itu terungkap dalam publikasi Tinjauan Lingkungan Hidup (TLH) Walhi Riau 2024 di kantor mereka, Rabu sore (31/1/2024).
Publikasi TLH yang mengambil tema; “Bahu Membahu Mewujudkan Keadilan Ekologis di Bumi Melayu” di Sekretariat Walhi Riau, menghadirkan pembicara antara lain; Umi Ma’rufah, Manajer Pengembangan Program dan Kajian, Eko Yunanda (Manager Kampanye dan Pengarusutamaan Keadilan Iklim), dan Sri Wahyuni, Dewan Daerah Walhi Riau dan Ahlul Fadli.
Dalam pemaparannya, Umi Ma’rufah mengatakan, pesta demokrasi tahun ini rupanya masih tetap sulit mengubah pembaharuan dan pemulihan, khususnya Riau secara signifikan.
''Jadi dalam memillih Presiden dan Wakil Presiden periode 2024-2029, terpaksa kita memilih yang terbaik dari dari terburuk atau lesser evil dan melihat rekam jejak,'' ucapnya.
Dikatakan Umi, yang perlu dilkaukan dalam menentukan pilihan pertama; jejak kandidat dan partai pengusung. Rekam jejak ini menjadi tolak ukur seberapa besar tingkat keburukan para paslon.
Muaranya adalah menghindarkan hal terburuk terjadi, paling tidak, kriteria tersebut masih membuka ruang melahirkan pemimpin dan wakil rakyat yang dapat berdialog dan mempertimbangkan tuntutan keadilan yang disuarakan rakyat.
”Guna membangun kesadaran memilih yang terbaik dari yang terburuk, TLH WALHI Riau menyajikan sekilas gambaran terkait komitmen lingkungan hidup dan agraria dari masing-masing paslon, serta para oligarki yang berada di balik ketiganya,” ungkap Umi.
Misalnya dalam merespon isu krisis iklim, paslon urut 01, Anies-Muhaimin, menitikberatkan pada aspek ketahanan energi dan menempatkannya sebagai bagian dari upaya pemenuhan ketersediaan kebutuhan pokok yang terjangkau.
Sementara 0 2, Prabowo-Gibran, mengutamakan tercapainya swasembada energi sebagai prioritas bersama dengan swasembada pangan.
Berikutnya Capres 03, Ganjar-Mahfud, menekankan pada transisi energi di dalam bingkai ekonomi hijau sebagai instrumen penting guna mewujudkan lingkungan hidup yang berkelanjutan.
“Pertanyaannya, apakah masing-masing calon sudah menyentuh akar persoalan untuk memperbaiki kerusakan lingkungan dan ketimpangan, itu kembali lagi kepada publik menilainya,” kata Umi Ma’rufah.
Sementara itu, Sri Wahyuni, Dewan Daerah Walhi Koordianator Riau (WKR) mengatakan, dengan komposisi pendukung para capres-cawapres yang memperlihatkan dominasi oligarki di tengah situasi krisis, membuat kita pesimis akan adanya perubahan lebih baik dalam kebijakan terkait lingkungan hidup dan HAM.
”Untuk itu, pengarusutamaan tuntutan keadilan di tanah Melayu terus Walhi Riau lakukan. Menjelang Pemilu 2024 yang tinggal menghitung hari, kita harus bisa cerdas dan teliti dalam memilih, serta turut mengedukasi yang lain agar menghindarkan negara ini dari yang terburuk.
Terlepas dari siapa yang akan terpilih, mari kita terus berjuang bersama memenangkan keadilan ekologis, khususnya di bumi melayu,” tutup Sri Wahyuni, Dewan Daerah WALHI Riau. * (DW Baswir)
