Scroll to top

Tubuh Fathier Hangus Disetrum Listrik, Perusahaan Enggan Bertanggung Jawab

Author
By administrator
10 Nov 2025, 18:45:53 WIB Riau
Tubuh Fathier Hangus Disetrum Listrik,  Perusahaan Enggan Bertanggung Jawab

GEGAS.CO || PEKANBARU — Di tengah denyut kota Pekanbaru, Muhammad Fathier Risky, teknisi muda yang tersengat listrik saat bekerja, kini berjuang sendirian melawan sakit — dan ketidakpedulian pihak perusahaan, tempat dia bekerja.


Dari balik selimut tipis di ruang rawat RS Prima Pekanbaru, tubuh Muhammad Fathier Risky tampak hampir tak berdaya. Remaja 20 tahun itu menatap kosong ke langit-langit ruangan. Sebagian besar kulitnya, dari dada hingga punggung, dibalut perban putih tebal. Sekali-sekali, dia menggeliat menahan nyeri. Bau obat luka bakar menyengat di udara.


“Anak saya cuma bisa meringis kalau sakitnya datang,” kata Ruri Ria Sari, ibundanya, dengan suara nyaris tenggelam oleh isak.


Tangannya menggenggam erat ujung selimut anaknya. Sudah dua pekan Fathier dirawat sejak tersengat listrik saat menarik kabel jaringan internet di Jalan Siak II, Pekanbaru, pada Selasa siang, 28 Oktober 2025.


Sial datang begitu cepat. Saat memasang kabel, tangan kanan Fathier menyentuh jaringan listrik PLN yang melintang rendah di atas lokasi kerja. Seketika tubuhnya terpental, jatuh menghantam tanah. Rekan-rekannya panik, menjerit, dan membawanya ke rumah sakit dengan luka bakar 46 persen.


Kini, di rumah sakit, perjuangan lain dimulai — perjuangan melawan biaya.


Perusahaan tempatnya bekerja, PT In Neo yang disebut sebagai vendor jaringan My Republic, awalnya berjanji menanggung biaya pengobatan. Namun setelah beberapa hari, komunikasi mendadak terputus.


“Awalnya mereka janji, tapi sekarang tidak bisa dihubungi lagi. Rumah sakit bilang tagihan sudah 23 juta Rupiah lebih,” tutur Ruri lirih.


Karena tunggakan itu, pengobatan Fathier kini hanya mengandalkan paracetamol dan obat nyeri seadanya.


Lebih pahit lagi, kartu BPJS Ketenagakerjaan Fathier ternyata tidak aktif. Padahal setiap bulan, gajinya dipotong seratus ribu rupiah untuk iuran.


“Hari Jumat besok anak saya harus operasi lagi. Tapi kami sudah tidak punya uang,” ucap Ruri sambil menunduk, air matanya jatuh ke perban anaknya.




Pihak My Republic Pekanbaru mengaku tidak tahu menahu soal insiden ini. “Kami hanya menangani pemasaran dan pelanggan,” kata seorang petugas. 


Namun dari Jakarta, perwakilan teknis My Republic, Angga Wijaya menyebut, pihaknya telah menindaklanjuti kasus ini bersama vendor terkait, bahkan melayangkan protes ke PLN.


“Kabel PLN di lokasi terlalu rendah, hanya tujuh meter dari tanah, padahal seharusnya dua belas meter,” kata Angga. 


Dia menegaskan, seluruh tanggung jawab ketenagakerjaan dan keselamatan kerja berada di bawah PT In Neo selaku mitra resmi.


Namun di ruang perawatan sederhana itu, Fathier dan keluarganya tidak bicara tentang pasal kerja sama atau tanggung jawab hukum. Mereka hanya ingin satu hal: keadilan dan nyawa yang terselamatkan.


Bagi Ruri, pahlawan bukan mereka yang berbicara soal prosedur, tetapi yang hadir saat tangan butuh digenggam.


“Anak saya cuma kerja, bukan cari mati,” ujarnya, menatap wajah anaknya yang pucat.


Dalam luka bakar di tubuh Fathier, tersimpan kisah getir tentang pekerja muda yang jatuh di antara kabel rendah dan tanggung jawab yang lebih rendah lagi. * (rls/Denny W)


Bagikan Artikel Ini:

Tinggalkan Komentar dengan Akun Facebook:
Tulis Komentar