Scroll to top

Dulu Lahan Tidur, Kini Ladang Harapan: Jagung dari Kampung Kandis yang Tumbuh Bersama Cita-Cita Anak Negeri

Author
By administrator
28 Agu 2025, 15:23:05 WIB Riau
Dulu Lahan Tidur, Kini Ladang Harapan: Jagung dari Kampung Kandis yang Tumbuh Bersama Cita-Cita Anak Negeri

GEGAS.CO || SIAK — Di sebuah sudut sunyi Kampung Kandis, Kabupaten Siak, sekelompok orang dari berbagai latar belakang berkumpul bukan untuk aksi atau upacara resmi, melainkan untuk merayakan kehidupan yang tumbuh dari tanah sederhana — jagung pipil hasil kerja bersama masyarakat, polisi, dan perusahaan lokal.

Kamis pagi (28/8/2025), udara di RT 001 RW 001 itu terasa berbeda. Bukan hanya karena hamparan jagung yang menguning siap panen, tapi karena semangat gotong royong yang terasa begitu nyata. Anak-anak muda, petani lokal, anggota kepolisian hingga mahasiswa turun langsung ke ladang, bahu-membahu dalam panen raya yang lebih dari sekadar panen.

"Ini bukan hanya soal jagung, ini tentang harapan," ungkap Kompol H. Herman Pelani, S.H., M.H., Kapolsek Kandis, yang memimpin langsung kegiatan tersebut bersama jajaran. 

Dia tampak tak segan turun ke ladang, ikut mencabut batang jagung sambil sesekali tersenyum dan berbincang dengan warga.

Lahan seluas 0,5 hektar yang dulunya terbengkalai kini menghasilkan sekitar 1 ton jagung pipil — buah dari program ketahanan pangan hasil kolaborasi Polsek Kandis, Yayasan Sakai Mandiri dan PT. Ivomas Tunggal melalui pemanfaatan lahan CSR.

Lebih dari hasil panen, yang tumbuh adalah rasa percaya bahwa perubahan bisa dimulai dari hal kecil selama ada kemauan dan kebersamaan. Bukan hanya petani, tapi juga mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) yang turut serta, belajar langsung tentang arti ketahanan pangan dari lapangan — bukan dari buku.

“Kalau kita kompak, siapa pun bisa berkontribusi. Polisi pun bisa turun ke ladang, bukan cuma patroli,” ujar Brigadir Riko Eka Saputra, S.H., Bhabinkamtibmas Kampung Kandis yang hampir setiap hari hadir mendampingi proses tanam hingga panen.

Di tengah berbagai tantangan ekonomi dan isu ketahanan pangan, panen sederhana ini terasa seperti oase. Jagung yang dipetik di Kampung Kandis bukan hanya hasil pertanian, tapi simbol keberlanjutan, kesederhanaan dan kemanusiaan.

“Banyak orang berpikir perubahan itu harus besar. Tapi kadang, cukup dimulai dari setengah hektar tanah dan sekelompok orang yang percaya bahwa pangan adalah tanggung jawab bersama,” kata salah satu mahasiswa UMRI yang ikut menanam jagung sejak hari pertama.

Dan benar saja. Dari tanah itu, bukan hanya jagung yang tumbuh — tapi juga harapan. *(rls/Azfa)


Bagikan Artikel Ini:

Tinggalkan Komentar dengan Akun Facebook:
Tulis Komentar