GEGAS || PEKANBARU – Suasana teduh menyelimuti aula Tribrata Lantai 5 Mapolda Riau di Jalan Patimura, Pekanbaru, Selasa pagi (30/6/2026)
Sekitar 200 tokoh lintas agama, adat, pemerintah dan jajaran kepolisian duduk berdampingan dalam satu ruangan. Bukan untuk rapat koordinasi, melainkan untuk memanjatkan doa bersama dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-80 yang jatuh pada 1 Juli.
Kegiatan yang berlangsung dari pukul 09.25 hingga 10.50 WIB ini berjalan aman, tertib dan penuh makna. Hadir di antaranya Asisten I Sekretariat Daerah Provinsi Riau Zulkifli Syukur, M.Si., Wakapolda Riau Brigjen Pol. Dr. Hengki Haryadi, S.I.K., M.H., para pejabat utama Polda Riau, Wakil Ketua Bhayangkari Polda Riau, serta Ketua Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Datuk Seri H. R. Marjohan Yusuf.
Kehadiran pemuka agama dari enam agama yang diakui di Indonesia—Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu—menjadikan momen ini lebih dari sekadar seremonial. Ini adalah pernyataan nyata bahwa Riau adalah rumah bagi semua.
Keberagaman Adalah Kekuatan, Bukan Penghalang
Dalam sambutannya, Wakapolda Riau Brigjen Pol. Dr. Hengki Haryadi menegaskan bahwa peringatan Hari Bhayangkara ke-80 bukanlah pesta ulang tahun biasa.
"Ini momentum untuk merefleksikan kembali esensi pengabdian Polri: melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat. Dan itu tidak akan pernah tercapai tanpa dukungan serta sinergi dari seluruh komponen bangsa," katanya di hadapan para undangan.
Hengki juga menyoroti pentingnya menjaga keberagaman suku, agama, ras, dan golongan sebagai fondasi utama persatuan. "Di Riau, kita hidup berdampingan. Itu bukan sekadar fakta sosial, itu adalah kekuatan. Tugas kamilah bersama untuk merawatnya," tegas perwira tinggi dengan satu bintang di pundaknya itu.

Melalui kegiatan ini, Polda Riau ingin menyampaikan pesan penting: keamanan dan stabilitas daerah tidak hanya dibangun oleh aparat penegak hukum. Dibutuhkan kolaborasi, dialog dan penguatan nilai-nilai toleransi yang melibatkan pemerintah, tokoh adat, tokoh agama serta seluruh lapisan masyarakat.
Hari Bhayangkara ke-80 tahun ini menjadi pengingat bahwa ketika semua pihak duduk bersama dalam doa dan kebersamaan, maka persatuan bukan lagi mimpi, melainkan kenyataan yang hidup setiap hari di tengah masyarakat Riau.
"Selamat Hari Bhayangkara ke-80. Semoga Polri semakin profesional, humanis, dan dekat dengan rakyat," tutup Wakapolda dengan senyum optimis.
Ceramah Kebangsaan: Toleransi Diamalkan, Bukan Sekadar Diucapkan
Di kesempatan yang sama, Ustaz H. Yurnalis, S.Ag menyampaikan ceramah kebangsaan yang dibawakan oleh Dengan bahasa yang lugas dan menyentuh. Dia mengajak hadirin untuk memandang perbedaan agama sebagai anugerah, bukan sumber konflik.
"Persaudaraan tidak dibangun di atas kesamaan keyakinan semata, tetapi di atas kepedulian, gotong royong, dan keinginan bersama untuk menciptakan keamanan. Nilai toleransi harus kita wujudkan dalam aksi nyata, bukan sekadar wacana," tuturnya.
Ustaz Yurnalis juga mengingatkan pentingnya memperkuat dimensi spiritual. "Mari kita perbanyak ibadah, termasuk salat malam, sebagai ikhtiar memohon perlindungan dan keberkahan bagi bangsa kita," imbuhnya.

Enam Agama, Satu Doa untuk Riau
Puncak acara adalah doa bersama yang dipimpin secara bergantian oleh perwakilan masing-masing agama. Dalam khidmat yang sama, setiap pemuka agama memanjatkan doa sesuai keyakinannya—semuanya bermuara pada satu harapan: kedamaian, keamanan serta keberkahan untuk Riau dan Indonesia.
Usai doa, Polda Riau memberikan plakat penghargaan kepada para tokoh agama sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka dalam menjaga kerukunan umat beragama di Bumi Lancang Kuning.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama yang merekam eratnya kebersamaan lintas iman dan lintas elemen. **
