GEGAS.CO || PEKANBARU — Dewan Pimpinan Daerah Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (DPD ASITA) Riau menegaskan bahwa percepatan pembangunan infrastruktur merupakan kunci utama untuk menggerakkan sektor pariwisata di Provinsi Riau.
Ketua Umum DPD ASITA Riau, Dede Firmansyah, menyampaikan bahwa selama ini potensi pariwisata Riau belum tergarap optimal akibat keterbatasan infrastruktur, khususnya kondisi jalan menuju destinasi wisata.
“Pemerintah fokus pada infrastruktur itu sudah sangat bagus. Jalan, destinasi, dan masyarakat nanti akan berjalan sendiri,” ujar Dede di sela-sela Rapat Kerja Daerah (Rakerda) ASITA Riau yang dirangkai dengan kegiatan Business Matching di salah satu hotel berbintang Pekanbaru, Senin (12/1/2026).

Dede mencontohkan strategi pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah Malaysia pada era Perdana Menteri Mahathir Mohamad. Menurut dia, pembangunan jalan tol dari ujung selatan hingga utara Malaysia menjadi fondasi kuat berkembangnya sektor pariwisata negeri jiran tersebut.
“Mahathir bilang sederhana, saya bangun highway dari ujung Johor sampai dekat Thailand. Setelah itu, sektor wisata akan jalan sendiri. Itu yang terjadi di Malaysia,” ungkapnya, mengutip pengalaman Sandiaga Uno, ketika itu menjabat Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Pusat saat berkunjung ke Malaysia pada 1990-an.
Ia menilai, pendekatan serupa kini mulai terlihat di dalam negeri. Salah satunya di Provinsi Jawa Barat (Jabar), di mana Gubernur Dedi Mulyadi fokus membangun dan memperbaiki jalan di tingkat kabupaten dan kota. Dampaknya, kawasan pedesaan hingga persawahan justru menjadi daya tarik wisata bagi wisatawan mancanegara.
“Tidak harus langsung satu kilometer. Kalau hanya mampu 500 meter, cicil saja. Yang penting jelas prioritasnya,” tegas Dede.
Selain persoalan jalan, Dede juga menyoroti kondisi Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru sebagai pintu masuk utama wisatawan ke Riau. Diungkapkan Ketua Asita Riau ini, keterbatasan landasan pacu membuat bandara tersebut belum mampu melayani pesawat berbadan lebar secara optimal.
“Medan sudah pindah dari Bandara Polonia ke Kualanamu. Semua pesawat besar bisa masuk. Tapi Riau belum,” katanya.

Dede mengungkapkan, salah satu maskapai nasional bahkan memiliki hingga 10 rute langsung ke Jeddah, Arab Saudi. Namun, khusus dari Riau, penerbangan harus transit terlebih dahulu ke luar negeri.
“Ini problem serius. Kalau entry point kita tidak mendukung, bagaimana pariwisata mau berkembang maksimal?” pungkasnya.
DPD ASITA Riau berharap, sinergi antara pemerintah daerah dan pelaku industri pariwisata dapat diperkuat, dengan fokus pada pembangunan infrastruktur sebagai fondasi utama pertumbuhan pariwisata berkelanjutan di Bumi Lancang Kuning.* (Denny W)
