GEGAS.CO || ROHIL –Upaya besar-besaran dilakukan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau. Sebanyak 920 prajurit TNI telah diterjunkan ke berbagai titik di seluruh wilayah Riau dalam operasi darurat untuk menanggulangi bencana asap yang terus mengancam lingkungan dan kesehatan warga.
Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) I/Bukit Barisan (BB) Mayjen TNI Rio Firdianto memastikan seluruh kekuatan telah dikerahkan secara maksimal.
Dia menegaskan bahwa dukungan penuh dari berbagai pihak — termasuk Kementerian, pemerintah provinsi, dan kabupaten — menjadi kunci menurunnya jumlah titik api secara drastis sejak 17 Juli 2025.
“Kami sudah sebar 920 prajurit ke seluruh wilayah Riau dan menyiapkan cadangan 300 personel bila diperlukan. Dengan kekuatan ini, wilayah bisa tercakup semua. Di Rohil, mudah-mudahan hari ini tuntas,” ujar Pangdam I/BB didampingi Danrem 031/WB : Brigjen TNI Sugiyono saat meninjau langsung lokasi kebakaran, Selasa (5/8/2025).
Selain TNI, Polres Rokan Hilir (Rohil) mengerahkan 175 personel dan TNI dari wilayah Rohil menambahkan 120 prajurit untuk mendukung pemadaman. Hingga kini, luas lahan terbakar di Rohil diperkirakan mencapai 1.098 hektare dalam kurun sebulan terakhir.
Pangdam juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas gugurnya salah satu petugas akibat kelelahan dan paparan asap pekat saat bertugas di lapangan.
“Kondisi asap memang cukup pekat dan tidak sehat. Rekan kita kemungkinan wafat karena kondisi fisiknya lemah ditambah kelelahan,” ujarnya dengan nada duka.
Dia menegaskan, sebagian besar karhutla di Riau diduga kuat dipicu oleh aktivitas pembakaran lahan secara sengaja oleh masyarakat. Karena itu, langkah represif pun diambil. “Kami sudah berkoordinasi dengan Kapolda dan Gubernur. Polda Riau juga sudah mulai melakukan penegakan hukum terhadap para pelaku,” kata Mayjen Rio.
Meski demikian, pendekatan persuasif dan edukatif tetap dijalankan. Bersama Korem dan Pemprov Riau, TNI gencar memberikan penyuluhan kepada masyarakat agar tidak lagi membuka lahan dengan cara membakar.
Dia juga memberikan edukasi tentang pengelolaan limbah pertanian seperti tandan kosong sawit (tonggos) yang kerap dibakar. “Tonggos itu bisa dipotong dan dicacah untuk dijadikan pupuk kompos. Tidak perlu dibakar,” jelas Pangdam.

Dengan tegas, Pangdam mengakhiri seruannya: “Jangan bakar lahan lagi! Tindakan ini tidak hanya melanggar hukum, tapi juga mengancam nyawa, merusak lingkungan dan menghancurkan masa depan anak cucu kita.”
Upaya lintas sektor ini menunjukkan bahwa meski tantangan besar, semangat kolaborasi antara aparat, pemerintah, dan masyarakat dapat membawa harapan bagi langit Riau yang lebih bersih. * (Denny W)
