GEGAS || PEKANBARU - Di tengah bayang-bayang ancaman siklus cuaca ekstrem 30 tahunan yang diprediksi melanda Indonesia, Kepolisian Daerah (Polda) Riau mengambil langkah tidak biasa.
Lewat ajang Riau Bhayangkara Run 2026, korps berbaju cokelat ini tidak sekadar menggelar kompetisi olahraga, melainkan menabuh genderang perang melawan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta misi penyelamatan ekosistem Bumi Lancang Kuning.
Agenda Road to Riau Bhayangkara Run 2026 sebagai rangkaian menyambut Hari Bhayangkara ke-80. Event lari terbesar di Pulau Sumatera ini mengusung misi krusial dalam memitigasi bencana lingkungan global yang mengancam wilayah Riau sepanjang tahun ini.
Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan menegaskan bahwa setiap derap langkah peserta dalam ajang ini membawa pesan advokasi yang kuat. Pihaknya berupaya menyatukan komitmen seluruh elemen masyarakat, sektor swasta dan instansi pemerintah untuk berkolaborasi secara masif dalam pencegahan dini karhutla serta perlindungan satwa endemik.
Langkah preventif ini diambil menyusul peringatan serius dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Data BMKG menunjukkan wilayah Riau kini sedang memasuki siklus cuaca ekstrem 30 tahunan, di mana fenomena serupa terakhir kali melanda dan melumpuhkan Indonesia pada tahun 1997 silam akibat kebakaran hutan hebat.
Menyikapi ancaman nyata tersebut, Irjen Herry Heryawan mengajak publik mengubah pola pikir (mindset) dalam menjaga kelestarian alam melalui kampanye positif di ruang olahraga publik.
"Dengan berlari, kita ingin menggaungkan pesan bahwa menjaga alam dan lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama. Kita satukan langkah dan rapatkan barisan untuk menanamkan upaya kolaboratif. Ini adalah langkah untuk mengubah mindset seluruh masyarakat Provinsi Riau agar selalu melindungi alam, menjaga ekosistem, termasuk melindungi satwa liar kita seperti gajah dan harimau Sumatera," tegas Irjen Herry Heryawan di Pekanbaru, Minggu (21/6/2026).

Polda Riau menetapkan 3 (tiga) poin fokus utama dalam perhelatan tahun ini. Pertama, membangun wadah edukasi bersama agar penanganan titik api (hotspot) bisa diantisipasi secara cepat oleh seluruh lapisan masyarakat secara terintegrasi sebelum meluas menjadi bencana kabut asap.
Kedua, ajang ini menjadi panggung kampanye konservasi fauna. Polda Riau secara aktif menyerukan perlindungan habitat gajah dan harimau Sumatera yang kian terdesak akibat ancaman perburuan liar dan kerusakan hutan pasca-kebakaran.
Ketiga, hal menarik yang menyita perhatian adalah tingginya antusiasme kelompok difabel yang mendaftar untuk menyemarakkan rute lari tahun ini.
Menjawab aspirasi terkait penyediaan kategori khusus, Kapolda memastikan komitmen inklusivitas institusinya untuk masa depan.
Meskipun kategori khusus disabilitas belum dapat diresmikan sepenuhnya pada musim 2026 karena keterbatasan waktu standardisasi jalur aman, Polda Riau memberikan jaminan proteksi penuh bagi para pelari difabel di rute umum.

"Bagi rekan-rekan difabel yang sudah mendaftar, silakan ikut berlari bersama-sama kita di rute umum. Nanti akan ada pengawasan saling menjaga dari panitia dan peserta lain karena mereka adalah prioritas. Insha Allah, sarana dan jalur khusus difabel akan kita siapkan matang-matang untuk tahun depan," urai jenderal bintang dua tersebut.
Di akhir agenda, Kapolda menyampaikan apresiasi tertinggi kepada tim panitia serta seluruh elemen masyarakat yang terlibat. Melalui aksi nyata dan doa bersama, Provinsi Riau diharapkan mampu melewati fase kritis cuaca ekstrem tahun 2026 dengan aman dan bebas dari kepulan asap.
Agenda peluncuran ini turut dihadiri oleh Wakapolda Riau Brigjen Pol Hengki Haryadi, jajaran Pejabat Utama (PJU) Polda Riau, serta Anggota Komisi I DPR RI Fraksi Partai Nasdem, Cindy Monica Salsabila Setiawan, yang memberikan dukungan penuh terhadap langkah strategis Polda Riau tersebut.* (Marden)
