Scroll to top

Tertembak Polisi, Dimas Kehilangan Satu Ginjalnya

Author
By administrator
22 Jan 2024, 14:56:48 WIB Riau
Tertembak Polisi, Dimas Kehilangan Satu Ginjalnya
Keterangan Gambar: Anjani, istri Dimas korban penembakan pihak kepolisian.

GEGAS.CO || PEKANBARU - Anjani (25 tahun), warga Jalan Pahlawan Kerja, Pekanbaru  menatap pilu suaminya, Dimas yang terbaring kritis di ruang ICU Rumah Sakit  Syafira.

Dimas yang merupakan tulang punggung keluarganya, harus kehilangan ginjal dan beberapa centimeter (cm) bagian ususnya. Gagara sebutir peluru bersarang di perutnya, setelah awalnya menembus bagian pinggang belakangnya.

''Saya tidak tahu bagaimana nasib kami ke depannya. Suami saya kehilangan satu ginjal, tentu tidak bisa bekerja yang berat berat lagi. Padahal kami membutuhkan biaya, karena anak anak kami masing kecil kecil. Yang sulung 2 tahun, sementara adiknya masih 12 hari,'' ungkapnya.

Tetapi sejak suaminya Dimas terbaring di ruang ICU RS Syafira, otomatis tidak yang memenuhi kebutuhan hidupnya. ''Untuk membeli susu anak saya saja tidak punya, Pak,'' ucapnya kepada wartawan, Senin (22/1/2024) malam.

Dituturkan Anjani, sebelum suaminya tertembak dia pamitan ke Kota Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil).

Tapi, pada Sabtu (20/1/2024) dini hari lalu, Dimas, suaminya itu mengontak dirinya melalui WhatsApp (WA) dan mengatakan dirinya ditembak di pinggir jalan Pekanbaru-Duri, perbatasan Minas-Kandis, tidak jauh dari pintu tol Pekanbaru-Dumai.

Setelah dijemput oleh Oomnya, Dimas lalu dilarikan ke RS Mesra di seputaran Simpang Tiga Pekanbaru. Tetapi RS Mesra menolak Dimas, dengan alasan peralatan medis mereka tidak bisa untuk menangani operasi besar.

Akhirnya Dimas dilarikan ke RS Syafira dan dirawat di rumah sakit yang berada di Jalan Jenderal Sudirman itu. Dimas sempat kritis dan koma.

Yang membuat Anjani sedih, ketika itu dirinya tidak diberitahu apa penyebab polisi menembak suaminya.

Tetapi tidak satupun dari pihak kepolisian itu yang mau menjelaskan kesalahan apa yang diperbuat suami, Dimas, sehingga polisi menembak dia.

”Sempat saya bilang kepada abang abang polisi itu, kasusnya apa? apakah suami saya itu seorang bandar narkoba atau seorang teroris?” tanya Anjani yang dijawab anggota polisi itu; ”Nanti saja Bu, kami jelaskan”.

Anehnya lagi, ketika suaminya melewati masa masa kritisnya, setiap oknum polisi datang maupun menghubungi lewat handphone lebih fokus bertanya peluru yang bersarang di tubuh suaminya sudah dikeluarkan tim dokter.

Mereka yang bapak bapak polisi tadi mengaku dari Polsek Tambang, Polresta Pekanbaru, dan Polda Riau, Bid Propam Polda Riau. Padahal secara resmi baik dirinya, maupun kuasa hukumnya Rohil Brahmana belum ada membuat laporan di Polda Riau.

Yang membuat Anjani semakin galau dan stress  ketika pihak Rumah Sakit Syafira selalu menanyakan biaya operasi dan perawatan, yang jumlahnya  Rp30 juta lebih.

”Memang ada dari abang polisi itu, nama Hendra yang menjamin uang pengobatan ditanggung pihak Polda Riau. Tetapi anehnya, setiap mau menebus obat obat suami saya, pihak kasir tetap menagih utang biaya pengobatan itu,'' ungkapnya.

Sayangnya, hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian. Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Kombes Pol Asep Darmawan dan Kabid Humas Polda Riau Kombes Hery Murwono ketika dikonfirmasi melalui pesan WA belum memberikan jawaban mengapa Dimas tertembak oleh peluru polisi. * (Denny)


Bagikan Artikel Ini:

Tinggalkan Komentar dengan Akun Facebook:
Tulis Komentar