GEGAS || PEKANBARU - Di tangannya, selembar kupon kecil sudah agak lusuh. Perempuan itu menggenggamnya erat, seolah takut harapan yang ia simpan ikut terlepas.
Namanya Weni, sebut saja begitu. Pagi itu, Minggu, 8 Februari 2026, ia melangkah pelan menuju Sekretariat Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Provinsi Riau, di Jalan Dr Setia Budi, Pekanbaru. Bukan pesta yang ia cari. Ia hanya ingin pulang dengan perasaan tidak sendirian menyambut Imlek.
Menjelang Hari Raya Imlek 2577/2026, ratusan warga Tionghoa prasejahtera berkumpul di tempat itu. Wajah mereka berbeda-beda, tapi ekspresinya serupa: harap, ragu, lalu lega.
Di tengah gemerlap Imlek yang sebentar lagi tiba, kerap identik dengan kemewahan, mereka adalah sisi lain yang jarang dibicarakan—mereka yang tetap ingin merayakan tahun baru, meski dengan kesederhanaan.
PSMTI Riau menyalurkan 500 paket Imlek hari itu. Isinya tak berlebihan: angpao, manisan, kacang-kacangan dan kebutuhan khas Imlek. Namun bagi Weni dan banyak penerima lainnya, bingkisan itu lebih dari sekadar paket sembako. Ia adalah pengakuan. Bahwa keberadaan mereka diperhatikan.
“Kami berbahagia,” ucap Weni singkat, suaranya bergetar.
“Terima kasih PSMTI. Semoga berkah di tahun ini.” Kalimatnya sederhana, tapi matanya berkata lebih banyak.
Ketua PSMTI Riau, Lindawati, menyaksikan pemandangan itu dari dekat. Setiap tahun, ia melihat wajah-wajah yang sama—dan cerita hidup yang nyaris serupa. “Ini kegiatan tahunan kami,” tuturnya. “Berbagi kasih kepada saudara-saudara kita yang merayakan Imlek, khususnya yang membutuhkan.”
Menurut Lindawati, Imlek bukan hanya soal tradisi dan perayaan. Ia juga momentum untuk saling menengok. “Kami ingin mereka tetap bisa merayakan Imlek dengan layak, meski dalam keterbatasan.”
Agar bantuan tepat sasaran, PSMTI lebih dulu mendata penerima dan membagikan kupon. Sebagian paket disalurkan langsung di sekretariat, sebagian lagi dititipkan melalui lembaga keagamaan.
Seratus paket disalurkan lewat Pusdiklat Bumi Suci Maitreya, menjangkau warga yang tak bisa hadir.
Di antara para relawan, tampak anak-anak muda dari Koci Riau. Melissa, perwakilan Cici Riau, ikut membantu membagikan paket. Baginya, pengalaman itu meninggalkan kesan yang tak akan mudah dilupakan.
“Saya merasa sangat senang bisa terlibat langsung,” katanya. “Ini mengajarkan saya bahwa berbagi tidak harus menunggu kita berlebih.”
Dia melihat sendiri bagaimana senyum kecil bisa muncul dari paket sederhana. “Ada kebahagiaan yang tulus di situ,” ucapnya pelan.

Bakti sosial Imlek ini hanyalah satu bagian dari rangkaian perayaan yang lebih luas. PSMTI Riau bersama organisasi Tionghoa lainnya akan menggelar perayaan Imlek bersama pada 22 Februari 2026 di Hotel Furaya Pekanbaru.
Perayaan itu rencananya akan dihadiri Pelaksana Tugas Gubernur Riau—sebuah simbol pengakuan dan kebersamaan lintas lapisan.
Namun pagi itu, di sekretariat yang sederhana, esensi Imlek terasa lebih nyata. Bukan pada dekorasi atau jamuan, melainkan pada momen ketika kupon kecil bertukar menjadi bingkisan dan bingkisan itu berubah menjadi harapan.
Bagi Weni, Imlek tahun ini mungkin tak dirayakan dengan gemerlap. Tapi ia pulang dengan senyum dan tas berisi kebutuhan Imlek. Yang lebih penting, ia pulang dengan keyakinan: bahwa di tengah kerasnya hidup, selalu ada tangan yang mau berbagi.
Dan barangkali, di sanalah makna Imlek paling jujur bersemayam. * (Denny W)
